Skip directly to content

Urban-Design

5. Hotel Kelas Satu

Usaha perluasan dengan menambah kamar-kamar baru diadakan pada tahun 1898. Sembilan tahun kemudian ditambah dengan sejumlah pavilyun baru. Bagian depan yang besar dengan lobby yang luas dibangun pada tahun 1931. Sedang rumah asli yang tampak sebagai bangunan induk dalam foto-foto kuno pada pertukaran abad ini, di tahun 1970an masih berdiri di bagian belakang, dikenal sebagai "rumah merah".

Sejak masa itu sampai tahun 1950an, Hotel des Indes merupakan hotel kelas satu yang tiada duanya dalam prestise dan kedudukannya di Jakarta. Setelah itu kedudukannva makin merosot.

5. First Class Hotel

Expansion efforts by adding new rooms held in 1898. Nine years later coupled with a new pavilion. The large front side, built in 1931, had a spacious lobby. While the original house that appeared to be the main building in the turn of 20th century old photographs, in the 1970’s was still standing in the back, known as the "red house".

From that time until the 1950’s, the Hotel des Indes was a first-class hotel like no other in the prestige and position in Jakarta. After that its positon was declining.

2. Moenswijk

2. Moenswijk

Moenswijk boleh dikata rumah yang paling dekat dengan pinggiran sebelah selatan pada zaman itu. Sekitar gedung Tabungan Pos (BTN) dan Asrama CPM Jaga Monyet (sekarang Jl. Suryopranoto) terdapat pos penjagaan atau benteng kecil Rijs-wijk. Nama Jaga Monyet menumbuhkan dugaan bahwa kawasan di luar benteng seperti Harmoni, Petojo dan lain-lain masih hutan lebat berawa-rawa.

Moenswijk berasal dari nama pemilik pertamanya, Adriaan Moens, seorang Directeur Generaal VOC yang kaya-raya. Sayang tak banyak yang kita ketahui tentang riwayat rumah dan tanah seluas 22.000 m persegi ini.

2. Moenswijk

2. Moenswijk

By that time Moenswijk was the closest house to the south outskirts of the city. Around gedung Tabungan Pos (BTN) and CPM Dormitory Jaga Monyet or monkey (now Suryopranoto street) there is a checkpoint or a small fort Rijs-wijk. It was called Monkey because the area outside the fort like Harmony, Petojo and others still marshy dense forest.

Moenswijk derived from the name of its first owner, Adriaan Moens, a wealthy VOC Directeur Generaal. Unfortunately we know not much about the history of the house and the land area of 22,000 square meters.

Hotel des Indes (ID)

Pendahuluan

Kalau kita sekarang berbicara tentang Duta Merlin, tentu sudah tidak ada bekasnya. Bagi kaum muda mungkin hanya tahu Duta Merlin di kawasan Harmoni yang sekarang telah menjadi area pertokoan dan perkantoran. Duta Merlin dulunya adalah hotel yang sangat kenamaan dan bergengsi di Jamannya.

Artikel ini ditulis oleh Siswadhi berjudul Matinya Hotel yang Berumur 115 Tahun dan diterbitkan dalam majalah Intisari terbitan Juni 1988 yang berjudul Batavia Kisah Jakarta Tempo Doeloe.

Hotel des Indes

Introduction

If we are now talking about Hotel des Indies, it would have been disappeared. For young people may only know Duta Merlin in the area of Harmoni which has become an area of shops and offices. Duta Merlin before was a very famous and prestigious hotel.

This article was written by Siswadhi entitled Death of a Hotel that was already 115 Years Old and published in Inti Sari magazine, June 1988 entitled The Story Batavia Old Jakarta. We translate this article into English in order to be read by every one as promotion of Jakarta Old City tourism.

2. Skenario Kedua

Karena itu arsitektur bukan ornamen dan proporsi façade sebuah Mall sebab mall yang besar menjadi arsitektur hanya pada saat dia penuh sesak dengan manusia bahkan pada saat ada seorang perampok membunuh seorang satpam didalamnya.5) Mall di Jakarta memiliki makna pada saat dia dibanjiri manusia yang membutuhkan ruang publik untuk mengekspresikan dirinya didepan umum. Gedung-gedung jangkung Jakarta yang jauh dari zona pejalan kaki tetapi di semuti oleh kendaraan yang macet, sebenarnya adalah krematorium bagi arsitektur itu sendiri. Saya tidak percaya akan Form follows function karena fungsi

2. The second Scenario

Because architecture is not ornaments and proportions of the façade of a mall as the giant mall turns into architecture only when it is crowded with people, even when there was a robber killed a security guard inside. 5) Malls in Jakarta have meaning when they are overwhelmed with people who need space to express themselves in public. The tall buildings in Jakarta that are far from the pedestrian zone but in crowded by stuck vehicle, is actually a crematorium for the architecture itself.

Pages