Skip directly to content

Tourism

4. Jacob Lugt

Jacob Lugt, pemilik baru yang membeli Hotel des Indes dalam tahun 1888, adalah seorang bekas militer dan pengusaha yang sukses. Dialah yang mulai mengusahakan hotel itu secara besar-besaran. Antara tahun-tahun 1891-94 dia membeli tanah-tanah di sekitarnya dan dijadikan suatu kompleks hotel yang cukup besar seluas 80.000 m persegi.

Tanah-tanah itu meliputi bekas Moenswijk yang dijadikan receptie-paviljoen, tanah Reinier de Klerk, persil yang disebut Hortus Medicus (kebun tanaman obat-obatan) douarier (janda) van der Parra dan persil Goldmann yang berbatasan dengan Gang Chaulan.

Jacob Lugt

4. Jacob Lugt

Jacob Lugt, the new owners who bought des Indes Hotel in 1888, was a former military and successful businessman. It was he who began to cultivate the hotel massively. Between the years 1891-1894 he bought the lands around it and made a large hotel complex of 80,000 sq m.

The lands was included former Moenswijk used as reception paviljoen, Reinier de Klerk land, parcels called Hortus Medicus (garden of medicinal plants) of the widow of van der Parra and Goldmann parcels bordering Chaulan Gang.

However, the wealthy Jacob Lugt did not gained success in the hospitality business.

3. Hotel de Provence

Pada tahun 1828 rumah itu dibeli dua pengusaha Perancis bernama A. Chaulan dan J.J. Didero. Kedua orang ini agaknya memang berusaha di bidang perhotelan, sebab mereka mempunyai sebuah losmen di Bidara Cina. Nama Chaulan diabadikan untuk nama Gang Chaulan. Penduduk lama kota Jakarta mengenal gang itu dengan nama jalan Kemakmuran, yang kemudian berganti nama lagi menjadi jalan Hasyim Ashari.

Mula-mula hotel itu dikenal dengan nama Hotel Chaulan saja; kemudian menjadi Hotel de Provence (1835) untuk menghormati daerah kelahiran pemiliknya.

3. De Provence Hotel

In 1828 the house was purchased by two French businessmen named A. Chaulan and J.J. Didero. Both are in the hospitality business, because they already had a hostel in Bidara Cina. The name Chaulan  was immortalized for an alley name Gang Chaulan. The old resident of the city called the alley Kemakmuran Street, which was then renamed again to Hasyim Ashari Street.

At first, the hotel was known as Hotel Chaulan only; later it became Hotel de Provence (1835) in honor of the owner’s birth place.

1. Hotel Des Indes

1. Hotel Des Indes

Dengan dibangunnya kompleks pertokoan Duta Merlin pada tahun 1971, tamatlah riwayat Hotel  Duta Indonesia. Sebuah hotel kenamaan seperti Raffles Hotel Singapura atau Clarence House di London. Jakarta pun kehilangan satu gedung beriwayat lagi, yang telah menyaksikan perkembangan kota ini dari akhir abad ke-18 sampai tahun 70-an.

Tidak seluruh Hotel Duta Indonesia yang dulu bernama Hotel des Indes berusia setua itu. Bagian yang tertua ialah dependance atau pavilyun sebelah selatan yang biasanya dipakai untuk resepsi atau pameran.

1. Hotel Des Indes

1. Hotel Des Indes

With the construction of shopping complex Duta Merlin in 1971, Hotel Duta Indonesia’s history is finished. It was a famous hotel like Raffles Hotel in Singapore or Clarence House in London. Jakarta lost one more historical building, which has witnessed the development of this city from the late 18th century until the 70s.

Not all parts of Hotel Duta Insonesia, formerly Hotel des Indes, was as old as that. The oldest part was the south pavilion, usually used for receptions or exhibitions.

Hotel des Indes (ID)

Pendahuluan

Kalau kita sekarang berbicara tentang Duta Merlin, tentu sudah tidak ada bekasnya. Bagi kaum muda mungkin hanya tahu Duta Merlin di kawasan Harmoni yang sekarang telah menjadi area pertokoan dan perkantoran. Duta Merlin dulunya adalah hotel yang sangat kenamaan dan bergengsi di Jamannya.

Artikel ini ditulis oleh Siswadhi berjudul Matinya Hotel yang Berumur 115 Tahun dan diterbitkan dalam majalah Intisari terbitan Juni 1988 yang berjudul Batavia Kisah Jakarta Tempo Doeloe.

Hotel des Indes

Introduction

If we are now talking about Hotel des Indies, it would have been disappeared. For young people may only know Duta Merlin in the area of Harmoni which has become an area of shops and offices. Duta Merlin before was a very famous and prestigious hotel.

This article was written by Siswadhi entitled Death of a Hotel that was already 115 Years Old and published in Inti Sari magazine, June 1988 entitled The Story Batavia Old Jakarta. We translate this article into English in order to be read by every one as promotion of Jakarta Old City tourism.

Pages