Skip directly to content

Biography

Oey Tambahsia (ID)

Pendahuluan

Batavia adalah kota yang penuh dengan kenangan. Umurnya yang tua, didirikan di paruh pertama abad 17, kota ini memiliki cerita sejarah yang pantas untuk di tulis kembali. Salah satunya adalah cerita tentang Oey Tambahsia yang sangat legendaris. Tulisan Siswadhi ini telah diterbitkan dalam majalah Intisari tahun 1984. Di dalam website Klikbatavia tulisan ini diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris dengan baik supaya Sejarah Batavia diketahui oleh setiap orang.   

Oey Tambahsia

Introduction

Batavia is a city full of memories. Her old age, founded in the first half of the 17th century, has a long history that deserves to be rewritten. One of them is the story of Oey Tambahsia who is very legendary. This Siswadhi’s writing has been published in Intisari magazine in 1984 and 1988. In Klikbatavia this article is translated into English so that every one will know the history of Batavia or old Jakarta.

2. Moenswijk

2. Moenswijk

Moenswijk boleh dikata rumah yang paling dekat dengan pinggiran sebelah selatan pada zaman itu. Sekitar gedung Tabungan Pos (BTN) dan Asrama CPM Jaga Monyet (sekarang Jl. Suryopranoto) terdapat pos penjagaan atau benteng kecil Rijs-wijk. Nama Jaga Monyet menumbuhkan dugaan bahwa kawasan di luar benteng seperti Harmoni, Petojo dan lain-lain masih hutan lebat berawa-rawa.

Moenswijk berasal dari nama pemilik pertamanya, Adriaan Moens, seorang Directeur Generaal VOC yang kaya-raya. Sayang tak banyak yang kita ketahui tentang riwayat rumah dan tanah seluas 22.000 m persegi ini.

2. Moenswijk

2. Moenswijk

By that time Moenswijk was the closest house to the south outskirts of the city. Around gedung Tabungan Pos (BTN) and CPM Dormitory Jaga Monyet or monkey (now Suryopranoto street) there is a checkpoint or a small fort Rijs-wijk. It was called Monkey because the area outside the fort like Harmony, Petojo and others still marshy dense forest.

Moenswijk derived from the name of its first owner, Adriaan Moens, a wealthy VOC Directeur Generaal. Unfortunately we know not much about the history of the house and the land area of 22,000 square meters.

Daendels

 

Lebih dari setengah abad setelah peristiwa pemberontakan orang Tionghoa 1740, orang Batavia sudah lupa dengan pembunuhan itu. Pulau Jawa sudah tidak lagi diperintah oleh VOC yang bangkrut diakhir abad ke 17, tetapi langsung oleh pemerintah Belanda. Seorang Gubernur Jendral yang baru Daendels tiba di Batavia pada tahun1803.

Salah satu Tugas utama Daendels selain membuat Batavia, sehat karena pada waktu itu Batavia benar-benar menjadi sarang penyakit, adalah mengorganisasi pertahanan untuk menghadapi Inggris.

Daendels

More than half a century after the Chinese uprising in 1740, the Batavian had been forgotten with the murder. Java was not anymore ruled by VOC that was bankrupt in the end of 18th century, but the Netherlands. A new Governor General Daendels arrived in Batavia in 1803.

One of the main tasks of Daendels, in addition to making healthy Batavia, because at that time Batavia really became den of disease, was to reorganize the defense against British. In Batavia, everywhere were a lot of garbage piles and her shallow canals became mosquito breeding.

Pages