Skip directly to content

4. Disimpan di Bintang Mas

Sementara itu ulah Tambahsia makin menjadi-jadi. Yang merisaukan masyarakat Tionghoa ialah kesukaannya mengganggu anak-istri orang. Sekalipun masih terbilang remaja, Tambah sudah terkenal sebagai lelaki hidung belang. Konon orang sampai menyembunyikan anak daranya, karena khawatir terlihat oleh Oey Tambah atau kaki-tangannya. Umumnya ia mempergunakan kekuatan uang untuk mencapai maksudnya, dan biasanya berha­sil. Terkadang ia pun mempergunakan kekerasan. Lebih tepat-nya, para kaki-tangannyalah yang melakukan kekerasan atau segala cara, karena mengharapkan hadiah besar dari tuannya.

Oey memiliki sebuah rumah peristirahatan di Ancol yang diberi nama Bintang Mas. Tempat itu bukan hanya dipakai untuk bersenang-senang bagi pemiliknya, tetapi juga untuk tempat pertemuan dengan para wanita yang berhasil dibujuk kaki-tangannya atau tempat menyimpan mereka.

Pada suatu hari seorang kaki-tangannya melihat seorang wanita cantik di daerah Tongkangan. Wanita itu ternyata sudah ber-suamikan seorang tukang kelontong. Dengan bantuan seorang mak comblang, Tambahsia berhasil memikat wanita muda yang hidupnya kekurangan itu. Sementara suaminya berkeliling menjajakan dagangan, istrinya naik kereta ke Bintang Mas untuk berkencan dengan Tambahsia. Lama-kelamaan penyelewengan itu tercium juga oleh si suami. Pada puncak pertengkaran, si istri diam-diam meninggalkan rumahnya untuk selanjutnya menetap di Ancol. Suaminya kelabakan mencari ke mana-mana, tapi tak ada yang tahu ke mana larinya nyonya itu. Pada suatu hari suami yang malang itu mendapat info bahwa istrinya "disimpan" di Bintang Mas. Tanpa membuang waktu lagi ia mencari ke sana.

Di depan pesanggrahan itu ia berteriak-teriak memanggil nama istrinya. Ia tak bisa masuk karena dihalangi penjaga. Mereka bahkan berusaha mengusir pembuat gaduh itu, tetapi tak berhasil. Oey Tambah dan istri tukang kelontong kebetulan sedang di dalam rumah. Akhirnya mereka merasa khawatir juga melihat ulah laki-laki yang seperti orang kesetanan itu. Tambahsia menyuruh orang-orangnya menyiapkan kereta agar mereka bisa menyingkir dari tempat itu.

Kereta berkuda yang membawa pasangan itu bergerak ke arah Pasar Ikan. Laki-laki kalap yang mengetahui istrinya dilarikan, segera mengejar kereta yang berlari kencang itu. Dalam waktu singkat ia sudah tertinggal jauh. Tapi ia masih nekad mengejar, sehingga akhirnya jatuh terduduk kehabisan tenaga. Sejak itu ia tak pernah terlihat lagi. Ia tak pernah pulang, sedangkan rumahnya tetap terkunci rapat. Konon ia bunuh diri dengan mencebur ke laut, tetapi mayatnya tak pernah diketemukan.

Ancol
Ancol